saya merindukan kebebasan

oh iya, padahal saya lahir dan tinggal di negara yang merdeka

padahal masing-masing warga negaranya memiliki hak untuk bebas, tidak diperbudakan.

begit pula hak kebebasan berekspresi.

tapi itu semua hanya fana bagiku. hanya sebuah ironi, yang entah sampai kapan.

solusi.

belum dapat kutemukan solusi itu.

yang kulakukan sekarang hanyalah, melewati, menjalani, menghadapi.

tanpa berkembang.

aku rindu.

rindu untuk bahagia, dengan ekspresiku. dari dalam hatiku.

otak ini telah beku, tak pernah berimprovisasi, tak pernah berfikir.

tangan ini gatal rasanya, ingin berkarya, ingin menggambar, ingin membangun, ingin membuat suatu masakan enak, lezat, bergizi.

tubuh ini telah kaku, tiada gerakan yang mengikuti hentakan hati.

hati ini, telah mati. telah sekian lama tanpa angin kebebasan.

ada apa?

saya lelah

aku lelah

harus menghafal,

mempelajari hal yang sebenarnya gampang, namun dipersulit,

hidup dimana tidak ada satupun, yang bisa merangsang hati ini hidup lagi.

Tuhan, hamba lelah…

hamba rindu kebebasan.

Yang Mulia, Alllah SWT,

jika memang inilah jalanku yang Kau berikan padaku, untuk memuliakanMu.

kuterima.

Namun, percepatlah kematianku. dan izinkan hamba tidak merasakan sakitnya kematian itu, serta sembari menunggu hari sidang akbar izinkan hamba bersua dengan keluarga hamba yang telah mendahului hamba, orang-orang yang hamba cintai, dan tentunya Nabi Muhammad SAW.

Hamba lelah

Hamba rindu

Yang Mulia…

Aku rindu kebebasan

“It’s been a long day, without happiness in my heart’

Advertisements

karena air mata

Sesungguhnya

pandangan mata ini tidak jelas, bukanlah karena miopi atau hipermiopi,

tapi

karena air mata

akan merindukanmu

ibu,

Honestly,

this view is blured, is not because of miopy or hypermiopy

but

because of tears

that miss you

mother,

Kalau udah kadung kangen, ya apa?

Gimana coba kalo uda kangen? kangen, sampe ngebuat mood jadi down to that deeeeep. hehe

Biasanya, aku pribadi kangen itu masak, renang, jalan-jalan. hmm Atau kalao kangen yang lain, kangen sama Mama, Adek-adek, Keluarga Besar. Kangen Pacitan, kampung halaman tercinta. Kangen hidup mandiri, mapan, menawan.

Lah terus, kalau kangen, lalu gak bisa berbuat apa apa gimana?

Jangan sedih!

Menulislah!

Menulis itu membantu meluruskan, mengalirkan emosi yang terhambat, yang sewaktu-waktu bisa meledak. begitulah,

Seperti sekarang ini, saya sedang kangen. sama, udah tak sebutin semua diatas.

Question: Kalo udah nulis, kangen ilang?

Enggak!

Lah?

Ya udah dari pada gak ada kesibukan apa-apa. Pengen pulkam, eh besok masih ada ujian, mau masak dimna apa, mau kursus apa dmn gmn, mau ngapain lagi.

Cinggu? *cieeh sok sok an korean. Teman?

Nah itu, Kalo nulis gak bisa, biasanya yang model outdoorman langsung menyasar-nyasarkan diri. entahlah. dulu aku sepert itu tetapi, setelah luka itu. walah, sakit nya gak ilang-ilang. malah yang ilang semangat sak mood sak passion nya. untuk kekawaianku masih. buahahahaha

Saya Dewi Rani, inilah tulisannya.

Whoy, kesimpulannya gimana?

Mikir ndiri! lu dikasih Tuhan tubuh yang ada tempurung kepalanya itu gak kosong, ada isinya, BRAIN. untuk mikir, nemuin ide, live your life, happily as you wish. waaaaaah 😀

Selamat Ber..entahlah

It’s 2015 wed!

Hallo.

2015 has been coming. today 2nd of January in 2015. first Friday.

Jumah Barakallah. Amin.

well, what is your resolution for this year? or do you have any target in this year?

me?

I’m not barely brave to share my target to this year. but, i have some words to share. and this words is about TRYING.

i had been lost in my journey of my life. you know, that 2012 is a year of regretful. I was on my ship to convince for sailing. when i was in the place which is i want it, i got it, but i left it. Oh My God.

i’ve lost my convenience to sailing back. but, the only way that always i did is trying and trying. trying to figure this out even i know i couldn’t. trying to get back from those ruins even i know that was barely hard.

till now, i’m still in regret. in 2015. hahaha

indeed, things never happen twice in its same ways. you lost it once, you’ll regret for the rest of your life.

so i try to make a good relation to this regret thing. i walk with it, i live with it. i never make it a bad thing. it is my good friend.

and now, in the rest of my life, on my rest heart, i tell to my self “Good Morning Beautiful”.

that’s it.

“..life will knock us down, but we can choose whether or not to get back up..”

Optional to say, so..

i say

Haloooo

Happy New Year 2014

Yeah!

Happy New Year 2014 !Happy Wednesday 😀

Tinggalkan 2013. Jadikan 2013 sejarah dan mari membuat sejarah baru di 2014.

Dengan doa dan harapan :

Semoga ditahun 2014 ini kita diberikan kesempatan untuk sukses, bahagia, diberi rezeki lebih. dan menjadi lebih baik tentunya.

Amin.

Be New! Be Great! and Wish The Luckiest!

 

11 12 13

Beauty of Wednesday On December

Seakan-akan, Wednesday sama December dua tahun terakhir ini memberikan keharmoniannya.

Menampakan untaian angka indah.

Tanggalnya indah, harinya indah, semuanya indah.

Red Rose On 1st November

Red Rose On 1st November

So Red, So Beautiful

Pertemuan Singkat

Kalo berjodoh, pasti bakal ketemu lagi kok.

Pertemuan singkat, di Indomaret. Malam itu, malam sabtu.

Secara bersamaan kita antre dikasir. Aku tersenyum sama gadis kecil didepanku, dia kayak nowel pipinya. Gak sempet melihat wajah dia, apalagi matanya. Jaga pandangan. :3

Sama-sama pake baju item, dia koko, aku kaos. Sama-sama pake denim, dia jeans, aku rok.

Seingatku dia gak pake kaca mata.

Seingatku juga, dia mempersilakanku duluan.

Kita sama-sama beli minuman. Aku beli susu kotak coklat HiLo, dia beli Aqua botol gede. Yang mana kita sama-sama juga ngeluarin uang lima ribuan.

Kalo dipikir-pikir lebay sih.

Tapi, kepikiran.

Apakah ini “Cinta Butuh Waktu” hehehe…

Hey kamu, siapakah kamu ?

Lagi-lagi novel (unfinished)

Lagi-lagi gue bikin cerita. kek novel, tapi entah rampung entah endak. pas ada ide dan mood buat oke. tapi belum sampe selelsai udah KO duluan.

yang novel pertama di postingan blog ini juga blum aku kelarin, malah keknya gak bakal aku kelarin. ya udin, biarin jadi cerita bersambung yg gk ada samungannya.

dan ini gue buat cerita baru lagi, karena kek nya gk bakal aku selesaiin, jadinya bagian aja yang aku publish, dan semoga menghibur. hahahaha 😀

Here you go!

—————————————————————–

Nama itu, Irham Wijaya

Kling Klingling

                “posisi…”

                “RKU 2.02 you”

                “otw. Prof uda dtg?”

                “otw juga”

                “mumumu”

                Entah kenapa akhir-akhir ini nada notif hapeku menjadi “killing killing killing”, gak senyaring seaslinya bahkan gak senyaring awal aku mendapatkan hape ini. Mungkin karena setiap ada pesan masuk atau panggilan, pasti bertautan tentang tugas, deadline, meeting, ditanya lagi dimana. Sampai-sampai mau buang hajat saja bagaikan sebuah cita-cita yang perlu usaha, proses bergelut dengan waktu paruhan.

                Pagi ini adalah pagi dari sekian pagi aku menjadi mahasiswa Arsitektur. Terkadang sesekali terkekeh kalo menyadari diriku akhirnya kembali ke Arsitektur. Cita-cita sejak aku duduk dibangku sekolah dasar kelas enam. Tuhan memang menuntun hambaNya dengan hati nurani, bukan dengan logika keras kepala kepragmatisan. Terbilang terlambat, tetapi banyak slogan mengatakan “better late than never”. Walau terlambat itu budaya yang tidak baik, tetapi menghibur diri itu lebih penting, sembari menelan sisa-sisa jamu pahit itu.

Kelas pagi selalu ramai. Tugas yang menghantam habis-habisan tanpa kenal lelah menjadi bahan bakar keriuhan suasana kelas pagi ini. Belum lagi kegiatan-kegiatan lain diluar kampus, lanjutan dari ospek mahasiswa baru. Dan this is it dosen telah datang.

                Tidak begitu berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Sama-sama memberi tugas yang banyak dengan deadline yang seakan-akan 24 jam gak pernah cukup, begitu juga sama-sama mengajar mata kuliah yang hampir membuat isi kepala mau keluar. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba saja dosen berpostur tegap  dengan title profesor itu, memulai kelas dengan salam sambil memegang selembar kertas ditangannya. Kemudian dicermatinya sudut kertas itu mencari identitas pemilik paper yang dipegangnya.

                Dosen itu menyebutkan sebuah nama. Dan nama itu adalah namaku. Seketika aku kaget, lalu biasa lagi. Disebutkannya lagi namaku. Dan kuacungkan tangan kananku. Suasananya berubah menjadi aneh tak karuan. Ada apa gerangan, kenapa aku. Ku langkahkan kakiku menuju depan ruang kuliah. Kutebarkan pandanganku ke teman-teman yang ada di ruang kuliah pagi itu. Benar-benar pagi yang aneh.  

                Pagi ini bukan pagi pembagian tugas maupun presentasi paper, tapi kenapa namaku di panggil dan apa sebenarnya yang dipegang oleh pak dosen itu. Kutatap matanya dengan sopan sambil mengahampiri profesor itu. Beliau menanyakan kembali kebenaran diriku yang memiliki nama itu. Mungkin nama itu tak nampak akulah pemiliknya sehingga membuat ragu sang profesor ini.

                Beliau menanyakan apakah aku bisa dimintai tolong untuk suatu proyek, lalu aku jawab sanggup. Kemudian ditanya pula apakah sore selepas kuliah aku ada waktu luang. Tentu aku gak ada, aku masih di kampus dengan kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru. Akhirnya profesor itu memberikanku sebuah kartu nama. Kulihat nama di kartu nama itu, itu bukan milik beliau, melainkan milik seseorang atau jangan-jangan profesor itu memiliki nama lain. Kutepis pikiran gak jelas itu. Profesor itu mengatakan itu kartu nama seorang mahasiswa arsitektur semestur tujuh dan menyuruhku menghubungi nama itu saat aku senggang secepatnya.

                Begitu saja lalu aku disuruh  kembali ketempat dudukku. Ditanyai dengan tatapan puluhan pasang mata teman-teman seruangan, aku hanya bisa balas dengan senyuman getir. Temanku yang telat pun meladeniku dengan pertanyaan heran yang tentu kujawab aku gak tau maksut dari pak profesor itu.

                                                                                _________________

                Sepulangnya dari kuliah siang hari ini, aku beranjak langsung menuju kosan untuk perisapan sore nanti kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru. Kugeletakkan semua bawaan dari kampus ke lantai, dan kurebahkan badanku di kasur. Sayup-sayup kudengar “killing”an hape ku lagi.

                Ada dua pesan tak terjawab. Keduanya pesan dari operator. Kalo enggak gara-gara nomornya mudah diingat dan sekeluarga pakai operator ini, pingin rasanya ganti kartu seluler.

                Teringat bahwa tadi di kelas kuliah pagi dikasih sebuah kartu nama yang harus segera aku hubungi. Sebentar aku merenung, proyek, aku baru semester satu, apa ya mungkin, tapi masa iya seorang profesor berbohong. Kutampik semua pikiran itu dan kuhubungi nomor di kartu nama itu.

                Pesan singkat cukup untuk “menawarkan diri” dalam melakukan pertemuan pertama. Pernah kuliah di salah satu universitas terkemuka di Surabaya, dan pernah merasakan ospeknya juga, dari situ aku dapat banyak hal tentang tata krama bertemu orang yang memiliki title khusus seperti profesor maupun dokter, begitu juga saat hendak menghubungi orang yang lebih senior untuk pertama kalinya. Mengingat kenangan itu, dilemaku kembali tersembur dalam batin jiwa yang sedang rehat di kamar kos yang lebarnya tak lebih dari enam meter persegi ini.  Kuhembuskan nafas, dan kurebahkan kembali tubuhku di kasur.

                Kliing Klingling

                Hapeku berdenyut kembali. Satu pesan dari nomor yang aku hubungi.

                “Maaf jangan panggil pak ya, saya juga mahasiswa tapi masih semester tujuh, panggil kak saja, ok. Besok pagi aku tunggu di kantin kampus. Sekilas aja nanti aku kasih kamu penjelasan tentang proyek ini. Jam tujuh ya. No late plis”

                “Ampun!” pekikku.”Kenapa aku sebegitu bloonnya. Kenapa panggil pak. Untung gak prof atau dok. “

                Kubalas pesan itu dengan permohonan maaf dan bersedia bertemu dengannya besok pagi. Jauh didalam hati, menanyakan siapakah orang yang bernama Irham Wijaya ini. Apa dia kakak tingkatku yang akan menjadi partner proyek ini atau siapa. Tidak begitu kuturuti pengembaraan siapa gerangan orang itu dan ku kembalikan pikiran ini pada kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru nanti sore.

                                                                                ____________

Hamparan bintang akan terlihat indahnya bak berlian saat malam hari. Malam ini, langit begitu cerahnya, cahaya bulan tidak begitu menampakkan arogannya, dan bintang-bintang  menampakan kecantikannya disetiap kerlipnya. Dibalik tirai jendela kamar kos ku, disinalah biasa kutatap bintang-bintang itu. Sesekali membayangkan di lain tempat ada seseorang juga sedang melihat bintang yang sama dengan yang kulihat.

                Angin malam yang dingin menyisir setiap helai rambutku, dan menyeka halus pipiku. Membuat malam ini begitu sepi namun damai di hati. Anehnya, sebuah nama masih menjadi tanda tanya. Irham Wijaya. Siapa dia gerangan. Tiba-tiba tubuh ini menjadi dingin jika nama itu terucap dalam hati. Ku hiraukan tanda tanya ini dan ku biarkan hanyut oleh angin malam yang membawanya larut ke dalam hamburan bintang-bintang di langit.

                Kling Klingling

                ‘Selamat malam, maaf besok pagi saya tidak bisa. Bagaimana kalo malam ini? Sekilas saja.’ Seketika sekujur tubuhku dingin, akan bunyi hape ku. Dan jantung ini bergemuruh saat mengetahui  Irham Wijaya di layar hape. Pikiranku mulai menggila dengan nama orang ini.

                “ Bagaimana dia bisa tiba-tiba mengirim pesan saat aku memikirkannya…” bisikku pelan.

                ‘Baiklah. Dimana?’ balasku singkat tanpa pikir panjang. Tugas untuk besok tidak banyak yang harus kuselesaikan. “Tapi, nanti kalo dia macam-macam bagaimna? Aku belum mengenalnya.”, Pikiranku terlalu sangsi dengan orang ini. Perasaan ini terus bergelanyut, entah penasaran entah pula khawatir.

                Kling Klingling

                ‘Dirumah profesor? Bisa? Saya tunggu ya’

                ‘Baiklah, saya berangkat sekarang juga’

                ‘Aku tunggu’ begitu balasnya.

                Sekejap ku telah siap berangkat menuju rumah profesor. Didalam perjalan sambil menembus lalu lalang riuh kota Yogyakarta malam hari dan angin dingin semilir, pikiran akan seorang Irham Wijaya dan pertemuan pertama ini sungguh membuat jantungku berdebar. Langkah berat bak orang yang gontai begitu eksotisnya meliuk-liuk di trotoar jalan.

Hanya tinggal jalan satu kilometer melewati dua blok perumahan ini aku telah tiba dirumah sederhana bergaya arsitektural american classic. Tamannya terlihat begitu indah saat malam hari. Dihiasi lampu yang temaram seakan-akan lampu itu adalah sekuntum bunga yang menyemburatkan cahaya warna-warni. Sungguh apik sang profesor ini mendesain rumah. Seorang profesor arsitek, tinggal di rumah sederhana, itu adalah suatu pemikiran yang menurutku sangat liberal.

Tok tok tok, ‘Assalamualaikum..’

‘Waalikumsalam..’ sahutan salam dari dalam rumah. Nampak wajah tampan seorang pemuda membukakan pintu rumah sederhana sang profesor ini. Dan dialah sang Irham wijaya, yang membuat jantungku berdetak gak karuan malam ini. Kutebarkan pandanganku ke ruangan 4×5 itu. Cahaya lampu kuning menyinari jelas ruangan itu. Terlihat paper berserakan dimeja. Tak luput seorang bapak tua berdiri dan menyilakan aku masuk.

Aku tercengang. ‘Kenapa seorang Irham Wijaya bisa berada disini? Apakah dia mahasiswa senior yang hebat, sehingga seorang profesor pun menyuruhnya datang kerumahnya?’ Pikiran ini kutepis nyengir, saatku tersadar bahwa aku juga berada diposisi yang dengan ‘abang’ itu. ‘hehehe’ kekehku dalam hati.

‘Kalian sudah saling kenal kan?’ ucap profesor memulai pembicaraan dalam ruangan itu. Aku mengangguk pelan seraya memandang seorang Irham. Tak pelak desiran hati yang mulai menyusuri pembuluh darahku membuncahkan dada saat menatapnya. ‘Aaah dia tampan sekali’ batinku dengan sekenaknya.

‘Saya mengumpulkan kalian berdua disini karena besok saya ada acara, sehingga proyek ini harus segera kamu pahami fir. Dari tugas desain tiga dimensi pertamamu aku tidak begitu tercengang. Karena banyak yang lebih bagus dan menarik. Tapi disini dialah yang memilih dari sekian banyak sketsa untuk dijadkani partner dalam proyek ini. Apa kamu sanggup?’ jelas profesor panjang lebar.

Pembicaran diruanganitu tidak jauh dari soal tender atau proyek. Dimana sejatinya proyek yang akan aku kerjakan kedepan ini adalah proyek pribadi seorang Irham Wijaya. Sebuah proyek Restaurant. Pikirku, pertama adalah Restaurant, aku penikmat kuliner dan suka banget sama suasana istilahnya restaurant. Kedua tentang Restaurant orang tuaku berasal dari keluarga bisnis rumah makan. Sehingga dari penawaran ini, kemudian latar belakangku, sampai hobi dan cita-citaku, tidak ada alasan untukku untuk menolaknya, proyek itu, bukan si ‘abang’. Kekehku pelan dalam hati. “Ampuun! atmosfir malam ini menggila” pekikku sambil cengar-cengir.

Diakhir pertemuan pertamaku ini dengan seorang Irham Wijaya, diakhiri dengan aku memanggilnya ‘Kak Ir’. Kuterkekeh dalam hati, tak lupa nama kontak pun ku ganti. Kuterkekeh untuk kesekian kalinya malam ini. Benar-benar menggila atmosfir malam ini.

———————————————–

Batas cerita.

#Yep itu tadi penggalan ceritanya. gak selesai. dan semoga menghibur.

sebenarnya cerita ini berakhir si cewek hidup bahagia bersama si Irham Wijaya. Hahaha 😀

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Instagram
%d bloggers like this: