Novel : I did it? Ow Dear God!

Bab 1

She is not Lazy, but Unmotivated
Fajar pagi, di Bulan Desember itu, diselimuti oleh udara sejuk dingin merasuk tulang. Hujan tadi malam mengguyur dengan lebatnya, di sebuah Desa, di Kab. Gianyar, Bali. Membangunkan embun dan kabut pagi, mengharmoniskan suasana Desa itu. Seperti biasa, masyarakat Desa telah bersiap untuk aktifitas mereka masing-masing. Mencari nafkah, menyelaraskan jiwa dengan alam sekitar dan Sang Pencipta.
Disuatu sudut Desa itu, di sebuah rumah padepokan yang selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun asing untuk membeli lukisan, pagi itu masih terlihat sepi. Sepasang Bapak Ibu pemilik padepokan itu sedang merapikan lukisan-lukisan untuk menyambut para wisatawan yang ingin mengunjungi padepokan mereka itu. Terdengar langkah berat sambil diseret, seorang gadis cilik, anak sulung Bapak Ibu pemilik padepokan itu, menghampiri mereka. Gadis cilik itu bernama Laura.
Anak gadis mereka, bukanlah gadis yang malas. Tapi kurang termotivasi tepatnya mungkin. Setiap pagi, laura pasti bangun sebelum Orang tuanya bangun. Namun, selesai sholat subuh, Laura tidur lagi hingga pukul tujuh kurang.
Setiap malamnya Laura selalu sibuk dengan lukisannya. Hampir setiap peernya, selalu dia kerjakan setelah pulang sekolah, namun kadang dia kerjakan tergantung mood. Belajar pun selalu, tapi belajar melukis katanya. Laura tidak pernah mendaptakan ranking disekolah. Namun laura selalu menjadi yang terbaik dalam pelajaran menggambar.
***
Suatu hari disekolah, pelajaran IPS saat semua murid dipanggil satu per satu, untuk mengumpulkan buku peer. Laura ingat kalo semalaman dia tidak menyelesaikannya, walo telah menyelesaikan hanya satu soal selepas pulang sekolah. Laura panik dan takut. Dia ingin mengerjakannya saat itu juga, tapi dia takut dengan teman-temannya. Dia takut dilaporkan ke Pak Guru lalu dihukum. Tapi Laura juga lebih takut jika sampai ketahuan oleh Pak Guru hanya menyelesaikan satu nomor saja, lalu mendapat hukuman. Panik, berfikir bagaimana dia keluar dari masalah ini. Detik itu juga.
Bagi anak kecil umur kelas 3 SD menghadapi hukuman adalah hal yang mengerikan, walau sebenarnya tidak semengerikan yang dikira. Hanya dibutuhkan keberanian untuk menghadapinya. Paling banter juga ditegur, selesai. Tapi bagi laura, kata hukuman adalah sebuah kata yang bermakna mengerikan.
Tibalah saatnya, belum sampai pada nomor urutnya, dia kepergok teman sebangkunya kalo Laura belum menyelesaikannya dan terlihat sedang menyelesaikannya saat itu juga, dikelas. Karena ini peer berarti pekerjaan rumah, sehingga harus dikerjakan dirumah, bukan di kelas. Begitu pendapat teman sebangku Laura. Laura sempat mendengar pembicaraan teman depan bangkunya, yang ternyata juga lupa belum menyelesaikan peernya. Malah belum sama sekali.
“Aku aman. Lifa kan pintar, Pak Guru pasti tidak akan memarahinya. Walau mungkin aku dimarahi, tapi aku ada temannya. Asyik. Baiklah, tidak usah aku selesaikan” batinnya.
Tapi tidak seperti dugaannya, teman belakang bangku Laura melaporkan ke Pak Guru jika laura belum menyelesaikan peernya.
“Tapi pak, Lifa juga belum menyelesaikannya” Sahut Laura.
“Apa-apaan kamu ini. Buku Lifa tertinggal dirumah. Diam kamu!” bisik Risti teman sebangku Lifa, seraya membentak kepada Laura.
“Tapi, itu buku peer Lifa, di atas meja, mana mungkin tertinggal?” jawab Laura
“Sudahlah kamu maju saja kedepan, Pak Guru memanggilmu!” bentak Risti
“Tapi,..” lirih Laura
Laura pun dipaksa oleh teman-temannya untuk maju kedepan. Sungguh hati dan pikiran Laura takut dan sedih. Takut akan hukuman dari Pak Guru, dan sedih atas tinda ketidakadilan dari teman-temannya. Dengan perasaan gamang, Laura maju kedepan, menghadap Pak Guru.
“kenapa kamu tidak menyelesaikan peermu?” Tanya Pak Guru
“Saya lupa pak” Jawab laura sambil menundukan kepala
“kamu tahu akibatnya jika kamu tidak mengerjakan peermu?”
“Tapi pak, “ Ingin Laura mengatakan jika Lifa juga tidak menyelesaikan peernya. Paling tidak saat dihukum, Laura tidak sendirian seperti pemikirannya tadi. Namun, mengingat ketidakadilan yang telah diperbuat teman-temannya, laura mengurungkan niatnya.
“Baiklah, hukumanmu sebutkan perkalian enam, tujuh, delapan, sembilan”
Glodak! Hati dan pikiran Laura serasa meledak.
“tapi saya baru hafal perkalian satu sampe enam pak” tawar laura
“Baiklah perkalian enam saja, sebutkan”
Laura pun menyebutkan perkalian enam.
“satu kali enam, enam. Dua kali enam, dua belas.” Seterusnya sampai perkalian delapan kali enam, laura panik, takut, bingung. Dia lupa. Sambil menatap Pak Guru, dengan suara sedikit parau, laura berkata,
“maaf pak, saya lupa”.
Pak guru pun menatap laura sambil bertanya,
“kenapa belum hafal?”
“Saya lupa pak” Jawab laura sambil menundukkan kepala.
Keadaan itu membuat Pak guru terdiam, dan memperbolehkan Laura kembali duduk.
“Ya sudah duduklah. Lainkali jangan lupa selesaikan peermu”
“Iya pak”
Dalam hati Laura, dia menangis. Sedih teman-temannya tidak adil dengannya. Sedih karena dia lupa perkalian enam, padahal laura hafal malah sebenarnya sampai perkalian tujuh pun Laura sudah hafal. Satu tekad dalam hati Laura, Segera Pulang!
***
Sepanjang perjalanan pulang sekolah menuju rumah. Laura mencoba melupakan kejadian di sekolah, dan berlari menuju Warung Bu Ni Ayu membeli pisang goreng. Pisang goreng adalah jajanan favorit laura. Saking tergila-gilanya Laura dengan pisang goreng, Ibu Laura sering membuatkannya, tapi laura tidak begitu suka dengan buatan ibunya apalagi buatan neneknya, begitu pula buatan bibinya maupun buatan tetangganya. Hanya buatan Bu Ni Ayu lah yang pas dilidah Laura.
“Bu Ni ayu,” Sapa Laura sedikit mengagetkan Bu Ni Ayu yang sibuk dengan kalkulatornya, “Beli pisang goreng, dua bu” lanjut laura.
“Eh Laura, pulang sekolah tah? ambil saja. Masukkin kedalam plastik nih”
Laura pun memilih-milih, mencari yang ter krispy memasukkannya kedalam plastik yang dia pegang. Sembari memasukkan pisang goreng kedalam plastik, Laura merogoh kantung seragam sekolahnya. Ternyata uang jajan yang diberikan ibunya, telah habis untuk jajan disekolah tadi. Laura mencari akal untuk membayar dua buah pisang goreng manis dan kripy itu.
“Yaaahh,” keluh Laura. “Aku lupa. Uangku habis” lanjutnya dengan lirih.
“Bu, kalo dua berapa harganya?” tanya laura.
“Lho kok lupa? Seribu nak” Jawab Bu Ni Ayu.
“Bu Ni Ayu”, panggil laura. “Ya nak?”, sahut Bu Ni Ayu.
“Ibu kenalkan sama ibuku?”
“Iyalah, lha ibukmu sering belanja kesini”
“Nah, Ini pisang gorengnya yang bayar biar ibu saya ya bu”
“Saya lupa bu, uang saya habis”, lanjutnya.
“Lho? Owalah nduk, yawes bawaen iku. Gak usah dibayar gak popo”
“beneran bu? Wah ibu baik. Saya pulang ya bu. Assalamualaikum”, Laura pergi meninggalkan warung Bu Ni Ayu.
“hah? Oke hong suastiastu ra”, jawab Bu Ni Ayu, sambil terbengong. Bu Ni Ayu adalah penduduk asli Bali. Agamanya Hindu. Kebiasaan laura yang pindahan dari Malang, Jawa timur mengucapkan salam adat islam. Agama yang dianut Laura serta Bapak Ibu Laura tentunya.
Di sepanjang perjalanan, Laura menikmati pisang goreng itu. Laura bergumam sendiri, menikmati manis demi manisnya pisang goreng dan sensasi krispi tepungnya. Melupakan kejadian di sekolah. Menghabiskannya sampai menjilati sisa-sisa krispi yang menempel di jari-jari mungilnya.
Byurrr! Laura nyemplung ke dalam aliran air dipinggir sawah atau sejenis dengan parit.
“waa, basah ini seragamnya” Dia tersadarkan dari fantasi pisang goreng yang dilahapnya. Tersirat, bagaimana keluar dari parit yang licin dan penuh dengan air setinggi lutut laura.
“Uuuugh..ugh..uuuugh” rintih Laura, sambil memanjat pinnggiran parit itu.
“Hah hah, ini gimana naiknya. Licin e iki pinggirane” sengalnya,
“Lho siapa ini?” tanya salah seorang Pak Petani yang sedang melewati pinggiran sawah itu bersama rombangannya.
“Ini, saya tadi kepleset, tolongin saya pak. Pinggirannya licin, susah dipanjat” sahut Laura.
“Owalah nduk nduk, kok ya biyayakan kamu ki. Orang ono parit segede iki ya”
“Hehehe iya pak,” “Awas pak pinggirannya licin banget” Lanjut laura.
“Tenang, Bapak ya pernah jatuh ndek kene.”
“Lho iya ta? Hehehe”
“Iyo wes, pegang tanganku ya.” perintah Pak Petani. “Bli Tata, pegangi aku ya” pinta Pak Petani pada temannya.
“Siaap? Satu, dua, tiii… gaaa!!”
Sreeeet.. byurrr!! Pak Petani dan Bli Tata yang membantunya ikut tercebur ke dalam pinggiran sawah itu.
“Loalah nduk, badanmu berat ya” sahut pak petani sambil ngos-ngosan.
“Bukan saya yang berat pak. Saya masih kecil, masa berat. Ini pinggirannya yang licin, kan saya tadi uda bilang” bela Laura
Terdengar suara tawa dari rombongan Pak Petani yang melihat kejadian itu.
“Sudah sebulan, parit ini belum dibersihkan warga sekitar. Jadi lumutnya banyak” terang Bli Tata.
“Dua hari yang lalu, saya juga tercebur di parit ini” sahut Pak Petani tadi, “lihat ya..” lanjutnya, sambil mencoba memanjat pinggiran dengan bantuan cangkul yang dipegangnya, setelah kaki sampi jalan pinggiran sawah, Pak Petani lainnya membantu Pak Petani yang tercebur itu, keluar dari parit itu. Tinggalah berdua Bli Tata dan Laura di dalam parit. Rombongan Pak Petani mencoba membantu mereka berdua. Mulai dari Pak I Mas Dwi, kemudian I Mas Dwi ini berpegangan pada cankulnya dan dipegang oleh Pak Petani lain. Sambil bergotong-royong, Para Pak Petani itu, berusaha untuk menyelamatkan Laura dan Bli Tata.
Sekitar hampir satu jam, baru berhasil mengeluarkan Bli Tata dan Laura dari parit. Dengan baju seragamnya yang basah kuyup dan kotor akibat dia memanjat pinggiran yang lebat akan lumut itu. Laura berterimakasih banyak atas pertolongan dari Pak Petani itu. Langsung setelah berterimakasih, Laura berpamitan kepada para Pak Petani yang telah menolongnya keluar dari parit itu, untuk pulang kerumah. Dia takut Bapak Ibunya mengkhawatirkannya.
“Ndug, ati-ati. Ojo sampe tercebur parit maneh ya” tutur Pak Petani yang menolongnya.
“Iya pak, terimakasih banyak Pak mau membantu saya keluar dari parit ini” Jawab Laura.
“Oh ya pak,” Lanjut Laura
“Iya nduk?”
“Eh gak jadi. Ya sudah saya pamit. Mari pak. Assalamu eeh, mari pak. Selamat siang” Ucap Laura sambil berlari melambaikan tangan ke para Pak Petani. Jarak keitar dua meter kedepan, Laura terpeleset lagi kedalm parit.
“Ow Dear God” rintih Laura.

Advertisements

About iWED

Hi, I'm Dewi. Well this is my second blog. Visit my first blog: http://dewiwednesday.blogspot.com/ Email me: dewiwednesday@gmail.com [or] rani.mulya@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Instagram
%d bloggers like this: