Lagi-lagi novel (unfinished)

Lagi-lagi gue bikin cerita. kek novel, tapi entah rampung entah endak. pas ada ide dan mood buat oke. tapi belum sampe selelsai udah KO duluan.

yang novel pertama di postingan blog ini juga blum aku kelarin, malah keknya gak bakal aku kelarin. ya udin, biarin jadi cerita bersambung yg gk ada samungannya.

dan ini gue buat cerita baru lagi, karena kek nya gk bakal aku selesaiin, jadinya bagian aja yang aku publish, dan semoga menghibur. hahahaha 😀

Here you go!

—————————————————————–

Nama itu, Irham Wijaya

Kling Klingling

                “posisi…”

                “RKU 2.02 you”

                “otw. Prof uda dtg?”

                “otw juga”

                “mumumu”

                Entah kenapa akhir-akhir ini nada notif hapeku menjadi “killing killing killing”, gak senyaring seaslinya bahkan gak senyaring awal aku mendapatkan hape ini. Mungkin karena setiap ada pesan masuk atau panggilan, pasti bertautan tentang tugas, deadline, meeting, ditanya lagi dimana. Sampai-sampai mau buang hajat saja bagaikan sebuah cita-cita yang perlu usaha, proses bergelut dengan waktu paruhan.

                Pagi ini adalah pagi dari sekian pagi aku menjadi mahasiswa Arsitektur. Terkadang sesekali terkekeh kalo menyadari diriku akhirnya kembali ke Arsitektur. Cita-cita sejak aku duduk dibangku sekolah dasar kelas enam. Tuhan memang menuntun hambaNya dengan hati nurani, bukan dengan logika keras kepala kepragmatisan. Terbilang terlambat, tetapi banyak slogan mengatakan “better late than never”. Walau terlambat itu budaya yang tidak baik, tetapi menghibur diri itu lebih penting, sembari menelan sisa-sisa jamu pahit itu.

Kelas pagi selalu ramai. Tugas yang menghantam habis-habisan tanpa kenal lelah menjadi bahan bakar keriuhan suasana kelas pagi ini. Belum lagi kegiatan-kegiatan lain diluar kampus, lanjutan dari ospek mahasiswa baru. Dan this is it dosen telah datang.

                Tidak begitu berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Sama-sama memberi tugas yang banyak dengan deadline yang seakan-akan 24 jam gak pernah cukup, begitu juga sama-sama mengajar mata kuliah yang hampir membuat isi kepala mau keluar. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba saja dosen berpostur tegap  dengan title profesor itu, memulai kelas dengan salam sambil memegang selembar kertas ditangannya. Kemudian dicermatinya sudut kertas itu mencari identitas pemilik paper yang dipegangnya.

                Dosen itu menyebutkan sebuah nama. Dan nama itu adalah namaku. Seketika aku kaget, lalu biasa lagi. Disebutkannya lagi namaku. Dan kuacungkan tangan kananku. Suasananya berubah menjadi aneh tak karuan. Ada apa gerangan, kenapa aku. Ku langkahkan kakiku menuju depan ruang kuliah. Kutebarkan pandanganku ke teman-teman yang ada di ruang kuliah pagi itu. Benar-benar pagi yang aneh.  

                Pagi ini bukan pagi pembagian tugas maupun presentasi paper, tapi kenapa namaku di panggil dan apa sebenarnya yang dipegang oleh pak dosen itu. Kutatap matanya dengan sopan sambil mengahampiri profesor itu. Beliau menanyakan kembali kebenaran diriku yang memiliki nama itu. Mungkin nama itu tak nampak akulah pemiliknya sehingga membuat ragu sang profesor ini.

                Beliau menanyakan apakah aku bisa dimintai tolong untuk suatu proyek, lalu aku jawab sanggup. Kemudian ditanya pula apakah sore selepas kuliah aku ada waktu luang. Tentu aku gak ada, aku masih di kampus dengan kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru. Akhirnya profesor itu memberikanku sebuah kartu nama. Kulihat nama di kartu nama itu, itu bukan milik beliau, melainkan milik seseorang atau jangan-jangan profesor itu memiliki nama lain. Kutepis pikiran gak jelas itu. Profesor itu mengatakan itu kartu nama seorang mahasiswa arsitektur semestur tujuh dan menyuruhku menghubungi nama itu saat aku senggang secepatnya.

                Begitu saja lalu aku disuruh  kembali ketempat dudukku. Ditanyai dengan tatapan puluhan pasang mata teman-teman seruangan, aku hanya bisa balas dengan senyuman getir. Temanku yang telat pun meladeniku dengan pertanyaan heran yang tentu kujawab aku gak tau maksut dari pak profesor itu.

                                                                                _________________

                Sepulangnya dari kuliah siang hari ini, aku beranjak langsung menuju kosan untuk perisapan sore nanti kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru. Kugeletakkan semua bawaan dari kampus ke lantai, dan kurebahkan badanku di kasur. Sayup-sayup kudengar “killing”an hape ku lagi.

                Ada dua pesan tak terjawab. Keduanya pesan dari operator. Kalo enggak gara-gara nomornya mudah diingat dan sekeluarga pakai operator ini, pingin rasanya ganti kartu seluler.

                Teringat bahwa tadi di kelas kuliah pagi dikasih sebuah kartu nama yang harus segera aku hubungi. Sebentar aku merenung, proyek, aku baru semester satu, apa ya mungkin, tapi masa iya seorang profesor berbohong. Kutampik semua pikiran itu dan kuhubungi nomor di kartu nama itu.

                Pesan singkat cukup untuk “menawarkan diri” dalam melakukan pertemuan pertama. Pernah kuliah di salah satu universitas terkemuka di Surabaya, dan pernah merasakan ospeknya juga, dari situ aku dapat banyak hal tentang tata krama bertemu orang yang memiliki title khusus seperti profesor maupun dokter, begitu juga saat hendak menghubungi orang yang lebih senior untuk pertama kalinya. Mengingat kenangan itu, dilemaku kembali tersembur dalam batin jiwa yang sedang rehat di kamar kos yang lebarnya tak lebih dari enam meter persegi ini.  Kuhembuskan nafas, dan kurebahkan kembali tubuhku di kasur.

                Kliing Klingling

                Hapeku berdenyut kembali. Satu pesan dari nomor yang aku hubungi.

                “Maaf jangan panggil pak ya, saya juga mahasiswa tapi masih semester tujuh, panggil kak saja, ok. Besok pagi aku tunggu di kantin kampus. Sekilas aja nanti aku kasih kamu penjelasan tentang proyek ini. Jam tujuh ya. No late plis”

                “Ampun!” pekikku.”Kenapa aku sebegitu bloonnya. Kenapa panggil pak. Untung gak prof atau dok. “

                Kubalas pesan itu dengan permohonan maaf dan bersedia bertemu dengannya besok pagi. Jauh didalam hati, menanyakan siapakah orang yang bernama Irham Wijaya ini. Apa dia kakak tingkatku yang akan menjadi partner proyek ini atau siapa. Tidak begitu kuturuti pengembaraan siapa gerangan orang itu dan ku kembalikan pikiran ini pada kegiatan lanjutan ospek mahasiswa baru nanti sore.

                                                                                ____________

Hamparan bintang akan terlihat indahnya bak berlian saat malam hari. Malam ini, langit begitu cerahnya, cahaya bulan tidak begitu menampakkan arogannya, dan bintang-bintang  menampakan kecantikannya disetiap kerlipnya. Dibalik tirai jendela kamar kos ku, disinalah biasa kutatap bintang-bintang itu. Sesekali membayangkan di lain tempat ada seseorang juga sedang melihat bintang yang sama dengan yang kulihat.

                Angin malam yang dingin menyisir setiap helai rambutku, dan menyeka halus pipiku. Membuat malam ini begitu sepi namun damai di hati. Anehnya, sebuah nama masih menjadi tanda tanya. Irham Wijaya. Siapa dia gerangan. Tiba-tiba tubuh ini menjadi dingin jika nama itu terucap dalam hati. Ku hiraukan tanda tanya ini dan ku biarkan hanyut oleh angin malam yang membawanya larut ke dalam hamburan bintang-bintang di langit.

                Kling Klingling

                ‘Selamat malam, maaf besok pagi saya tidak bisa. Bagaimana kalo malam ini? Sekilas saja.’ Seketika sekujur tubuhku dingin, akan bunyi hape ku. Dan jantung ini bergemuruh saat mengetahui  Irham Wijaya di layar hape. Pikiranku mulai menggila dengan nama orang ini.

                “ Bagaimana dia bisa tiba-tiba mengirim pesan saat aku memikirkannya…” bisikku pelan.

                ‘Baiklah. Dimana?’ balasku singkat tanpa pikir panjang. Tugas untuk besok tidak banyak yang harus kuselesaikan. “Tapi, nanti kalo dia macam-macam bagaimna? Aku belum mengenalnya.”, Pikiranku terlalu sangsi dengan orang ini. Perasaan ini terus bergelanyut, entah penasaran entah pula khawatir.

                Kling Klingling

                ‘Dirumah profesor? Bisa? Saya tunggu ya’

                ‘Baiklah, saya berangkat sekarang juga’

                ‘Aku tunggu’ begitu balasnya.

                Sekejap ku telah siap berangkat menuju rumah profesor. Didalam perjalan sambil menembus lalu lalang riuh kota Yogyakarta malam hari dan angin dingin semilir, pikiran akan seorang Irham Wijaya dan pertemuan pertama ini sungguh membuat jantungku berdebar. Langkah berat bak orang yang gontai begitu eksotisnya meliuk-liuk di trotoar jalan.

Hanya tinggal jalan satu kilometer melewati dua blok perumahan ini aku telah tiba dirumah sederhana bergaya arsitektural american classic. Tamannya terlihat begitu indah saat malam hari. Dihiasi lampu yang temaram seakan-akan lampu itu adalah sekuntum bunga yang menyemburatkan cahaya warna-warni. Sungguh apik sang profesor ini mendesain rumah. Seorang profesor arsitek, tinggal di rumah sederhana, itu adalah suatu pemikiran yang menurutku sangat liberal.

Tok tok tok, ‘Assalamualaikum..’

‘Waalikumsalam..’ sahutan salam dari dalam rumah. Nampak wajah tampan seorang pemuda membukakan pintu rumah sederhana sang profesor ini. Dan dialah sang Irham wijaya, yang membuat jantungku berdetak gak karuan malam ini. Kutebarkan pandanganku ke ruangan 4×5 itu. Cahaya lampu kuning menyinari jelas ruangan itu. Terlihat paper berserakan dimeja. Tak luput seorang bapak tua berdiri dan menyilakan aku masuk.

Aku tercengang. ‘Kenapa seorang Irham Wijaya bisa berada disini? Apakah dia mahasiswa senior yang hebat, sehingga seorang profesor pun menyuruhnya datang kerumahnya?’ Pikiran ini kutepis nyengir, saatku tersadar bahwa aku juga berada diposisi yang dengan ‘abang’ itu. ‘hehehe’ kekehku dalam hati.

‘Kalian sudah saling kenal kan?’ ucap profesor memulai pembicaraan dalam ruangan itu. Aku mengangguk pelan seraya memandang seorang Irham. Tak pelak desiran hati yang mulai menyusuri pembuluh darahku membuncahkan dada saat menatapnya. ‘Aaah dia tampan sekali’ batinku dengan sekenaknya.

‘Saya mengumpulkan kalian berdua disini karena besok saya ada acara, sehingga proyek ini harus segera kamu pahami fir. Dari tugas desain tiga dimensi pertamamu aku tidak begitu tercengang. Karena banyak yang lebih bagus dan menarik. Tapi disini dialah yang memilih dari sekian banyak sketsa untuk dijadkani partner dalam proyek ini. Apa kamu sanggup?’ jelas profesor panjang lebar.

Pembicaran diruanganitu tidak jauh dari soal tender atau proyek. Dimana sejatinya proyek yang akan aku kerjakan kedepan ini adalah proyek pribadi seorang Irham Wijaya. Sebuah proyek Restaurant. Pikirku, pertama adalah Restaurant, aku penikmat kuliner dan suka banget sama suasana istilahnya restaurant. Kedua tentang Restaurant orang tuaku berasal dari keluarga bisnis rumah makan. Sehingga dari penawaran ini, kemudian latar belakangku, sampai hobi dan cita-citaku, tidak ada alasan untukku untuk menolaknya, proyek itu, bukan si ‘abang’. Kekehku pelan dalam hati. “Ampuun! atmosfir malam ini menggila” pekikku sambil cengar-cengir.

Diakhir pertemuan pertamaku ini dengan seorang Irham Wijaya, diakhiri dengan aku memanggilnya ‘Kak Ir’. Kuterkekeh dalam hati, tak lupa nama kontak pun ku ganti. Kuterkekeh untuk kesekian kalinya malam ini. Benar-benar menggila atmosfir malam ini.

———————————————–

Batas cerita.

#Yep itu tadi penggalan ceritanya. gak selesai. dan semoga menghibur.

sebenarnya cerita ini berakhir si cewek hidup bahagia bersama si Irham Wijaya. Hahaha 😀

Advertisements

About iWED

Hi, I'm Dewi. Well this is my second blog. Visit my first blog: http://dewiwednesday.blogspot.com/ Email me: dewiwednesday@gmail.com [or] rani.mulya@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Instagram
%d bloggers like this: